unsur ekstrinsik puisi

UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK PUISI
I.          PENDAHULUAN
 Karya sastra secara umum dibedakan menjadi tiga genre: puisi, prosa, dan drama. Masing-masing kajian sastra tersebut memiliki unsur-unsur pembangun baik itu unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Dalam hal ini, sebuah karya sastra tidak mungkin tumbuh otonom, artinya selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang dunia.
Sehubungan dengan hal itu, sastrawan berupaya untuk menyalurkan obsesinya agar mampu dimaknai oleh pembaca. Visi dan persepsinya tentang manusia di muka bumi bisa ditangkap oleh pembaca, dan pembaca terangsang untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau hedonis dan tidak memuaskan kebuasan hati. Persoalan amanat, tendensi, unsur edukatif dan nasihat bukanlah hal yang terlalu berlebihan dalam karya sastra. Bahkan, unsur-unsur tersebut merupakan unsur paling esensial yang perlu digarap dengan catatan tanpa meninggalkan unsur estetikanya. Jika sebuah tulisan hanya mengumbar pepatah-petitih sosial, kepincangan-kepincangan sosial, tanpa diimbangi aspek estetika, namanya bukan karya sastra. Tulisan tersebut hanyalah sebuah laporan jurnalistik yang mengekspose kejadian-kejadian negatif yang tengah berlangsung di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kehadiran unsur-unsur tersebut bersama dengan proses penggarapan karya sastra.
Oleh karena itu, tulisan ini membahas permasalahan apakah puisi itu, apa sajakah unsur ekstrinsik dalam sebuah puisi, dan bagaimanakah hubungan unsur ekstrinsik tersebut dalam sebuah puisi. Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang dibahas dalam tulisan ini diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai puisi, unsur ekstrinsik puisi, dan analisis hubungan ekstrinsik dengan hasil karya sastra (puisi).
II. PEMBAHASAN
A.   Pengertian Puisi
Aminuddin (2000:134) menyatakan  bahwa,
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poesis “pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Pradopo (1995:3—7) mengutarakan bahwa puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisannya. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang beirama.
Sebagai salah satu genre sastra, puisi selain mengandung nilai-nilai kehidupan, sosialpsikologis, juga mengandung nilai kesejarahan. Oleh sebab itu, seringkali pembaca dapat menemukan unsur-unsur historis atau juga unsur pembangun puisi tersebut di luar unsur intrinsik yang kita ketahui selama ini.
B.   Unsur-Unsur Ekstrinsik Puisi

Unsur Ekstrinsik Puisi

UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK PUISI
I.          PENDAHULUAN
 Karya sastra secara umum dibedakan menjadi tiga genre: puisi, prosa, dan drama. Masing-masing kajian sastra tersebut memiliki unsur-unsur pembangun baik itu unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Dalam hal ini, sebuah karya sastra tidak mungkin tumbuh otonom, artinya selalu berhubungan secara ekstrinsik dengan luar sastra, dengan sejumlah faktor kemasyarakatan seperti tradisi sastra, kebudayaan lingkungan, pembaca sastra, serta kejiwaan mereka seperti filsafat, psikologi, religi, gagasan, pendapat, sikap, keyakinan, dan visi lain dari pengarang dalam memandang dunia.
Sehubungan dengan hal itu, sastrawan berupaya untuk menyalurkan obsesinya agar mampu dimaknai oleh pembaca. Visi dan persepsinya tentang manusia di muka bumi bisa ditangkap oleh pembaca, dan pembaca terangsang untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau hedonis dan tidak memuaskan kebuasan hati. Persoalan amanat, tendensi, unsur edukatif dan nasihat bukanlah hal yang terlalu berlebihan dalam karya sastra. Bahkan, unsur-unsur tersebut merupakan unsur paling esensial yang perlu digarap dengan catatan tanpa meninggalkan unsur estetikanya. Jika sebuah tulisan hanya mengumbar pepatah-petitih sosial, kepincangan-kepincangan sosial, tanpa diimbangi aspek estetika, namanya bukan karya sastra. Tulisan tersebut hanyalah sebuah laporan jurnalistik yang mengekspose kejadian-kejadian negatif yang tengah berlangsung di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, kehadiran unsur-unsur tersebut bersama dengan proses penggarapan karya sastra.
Oleh karena itu, tulisan ini membahas permasalahan apakah puisi itu, apa sajakah unsur ekstrinsik dalam sebuah puisi, dan bagaimanakah hubungan unsur ekstrinsik tersebut dalam sebuah puisi. Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang dibahas dalam tulisan ini diharapkan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai puisi, unsur ekstrinsik puisi, dan analisis hubungan ekstrinsik dengan hasil karya sastra (puisi).
II. PEMBAHASAN
A.   Pengertian Puisi
Aminuddin (2000:134) menyatakan  bahwa,
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poesis “pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Pradopo (1995:3—7) mengutarakan bahwa puisi adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisannya. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang beirama.
Sebagai salah satu genre sastra, puisi selain mengandung nilai-nilai kehidupan, sosialpsikologis, juga mengandung nilai kesejarahan. Oleh sebab itu, seringkali pembaca dapat menemukan unsur-unsur historis atau juga unsur pembangun puisi tersebut di luar unsur intrinsik yang kita ketahui selama ini.

pendidikan

Pendidikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.

Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”[rujukan?]

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Fungsi pendidikan

Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:

  • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
  • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
  • Melestarikan kebudayaan.
  • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.

Fungsi laten lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.

  • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
  • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
  • Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
  • Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:

  • Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
  • Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
  • Menjamin integrasi sosial.
  • Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
  • Sumber inovasi sosial.